feedburner
Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

feedburner count

Songs n Sermons |

Jepang dan filosofi hidup yang mendarah daging

 

 

Jepang, Paling Sekuler?

Marolop Simanullang - Tokyo


*) Jepang dan filosofi hidup yang mendarah daging

Jepang dikenal sebagai salah satu negara paling sekular di dunia. Walaupun banyak penduduk Jepang yang mengikuti ajaran agama Buddha atau Shinto, namun lebih banyak lagi yang tidak peduli sama sekali dengan agama.
 

 

 
Beberapa waktu yang lampau (emang udah lampau sih karena udah lamaaa… :-D), dalam sebuah farewell party di asrama, aku bertemu dengan teman-teman satu asrama yang tinggal satu lantai denganku (ya jelas dong, wong farewell party-nya diadakan di lantai dimana kami tinggal dan memang diperuntukkan buat tiga mahasiswa yang akan meninggalkan asrama kami dan tadinya mereka tinggal satu lantai dengan kami, hehehe…). Hampir semua teman-teman yang tinggal di lantai kami, lantai 9, datang ke farewell party tersebut. Tiga di antara yang hadir adalah Resident Assistant, alias orang-orang yang diberi tugas oleh asrama membantu para penghuni kamar lainnya, misalnya membantu mengurus segala administrasi tinggal ketika kali pertama tiba di Jepang. Mungkin istilah yang dikenal oleh orang Indonesia adalah tutor, walaupun menurutku istilah ini kurang tepat juga, soalnya mereka ga ngajarin mengenai sesuatu koq, hanya membantu, hanya rada kejam aja kan kalau disebut pembantu, hehehe…
Aku ngobrol dengan dua teman cowok asal Macedonia dan Jepang. Obrolan kami ngalor-ngidul dan tiba-tiba nyerempet ke masalah agama. Awalnya sih karena teman Macedoniaku cerita kalau dia pernah tinggal serumah dengan seorang wanita Russia padahal mereka belum married. Dia bilang sih itu hal normal di negaranya. Termasuk orang-orang yang mengaku percaya Tuhan. Terus aku nanya ke teman Macedoniaku: “Do you believe in God?” Dia menjawab:” I believe in God, but God whom I believe is different with God whom you believe.
Aku sih enggak bertanya lebih jauh bedanya dimana, tapi aku bisa simpulkan apa yang dia maksud karena obrolan kami masih terus berlanjut, hehehe… Terus, aku nanya juga ke teman Jepang: “Do you believe in God?” Teman Jepangku menjawab: “No, I don’t believe in God”. Yang membuat aku heran adalah sebelumnya selama kami ngobrol-ngobrol, nada suara temanku ini biasa-biasa aja, tapi waktu menjawab pertanyaanku nada suaranya meninggi dan semua teman-teman yang berada di lounge dimana kami mengadakan farewell party menjadi terdiam dan melihat ke arah dia.
Seorang teman wanita dari Bangladesh yang banyak membantuku mengenal lingkungan sekitar asrama ketika pertama kali tiba di Jepang, dan untuk dia juga salah satunya farewell party ini, bertanya ke kami bertiga: “What are you discussing about?” Teman Macedonia menjawab: “We’re discussing about whether you believe in God or not”. Teman Bangladeshku kemudian berkata: “Okay, I want to ask you all one by one. Start from you.” Dia menunjuk ke temanku si cowok Jepang. Jawabannya ya jelas sama dengan jawaban dia ke aku, dia ga percaya sama Tuhan. Dia konsisten, hehehe… Giliranku tiba: “I do believe in God.” Sebagian besar mereka sebenarnya sih udah pada tahu koq kalau aku orang Kristen walau berasal dari Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Sewaktu tiba giliran dua orang temanku cewek yang juga orang Jepang, mereka berdua punya jawaban serupa: “I don’t believe in God.”
Ya emang ga salah lagi sih, orang-orang Jepang kebanyakan ga peduli dengan urusan agama, alias urusan kepercayaan sama Tuhan.
Sebenarnya aku sendiri sih belum tahu juga apakah teman-teman Jepangku ini digolongkan “atheist” atau “agnostic”, soalnya walaupun mereka bilang mereka ga percaya sama Tuhan, pas aku bilang ke temanku si cowok Jepang bahwa pasti ada alasan di balik penciptaan alam semesta dan ada sebuah kekuatan di belakang penciptaan itu, dia malah bilang: “Yes, I agree with you.” Aneh kan ??? Memang aneh koq, aku juga enggak ngerti maksud dia apa :-p.
 

 
Aku masih ingat di akhir bulan November 2008 lalu aku melihat sebuah pohon Natal besar dipasang di depan sebuah mall besar di dekat asramaku. Minggu depannya, tanggal 6 Desember, professor di lab mengundang kami merayakan Natal di rumahnya. Di rumah professor, aku melihat sebuah pohon Natal yang ukurannya lumayan besar kalau dibandingkan dengan ukuran pohon Natal di rumahku di Medan, lengkap dengan hiasan Natal dan bintang di puncak pohon.
Sebelum kami menikmati makan malam, professor lab menyampaikan salam Natal buat kami semua: “Merry Christmas”. Bukan hanya professor lab yang mengundang merayakan Natal, tapi banyak banget aku lihat undangan-undangan untuk merayakan Natal entah dari kampus, dari asrama dimana aku tinggal, dari asrama dimana orang lain tinggal, dan dari teman-teman asing, termasuk teman-teman Jepang tentunya. Bahkan tadi, pas aku jalan-jalan sendirian ke mall, pohon Natal berwarna putih yang tinggi banget, mungkin sama tingginya dengan pohon Natal yang dicuri Mr. Bean dari tengah kota, masih menghiasi mall tersebut. Di luar mall, masih ada pohon Natal berwarna hijau lengkap dengan hiasannya dan di sebelahnya, ada band yang sedang manggung.
Begitulah di Jepang. Orang-orang merayakan Natal karena mengikuti tradisi perayaan Natal di negara-negara Barat tanpa mengerti makna Natal itu sendiri. Bisa jadi sih, orang-orang Barat yang tinggal di Jepang yang pertama kali memulai perayaan Natal di Jepang hingga pada akhirnya orang-orang Jepang sendiri tetap memelihara tradisi tersebut. Tapi, justru di situlah salah satu sisi kehidupan di negeri Sakura yang menarik buatku.
 



Tanggal 25 Desember pun tiba dan aku diundang untuk merayakan Natal di rumah salah seorang jemaat gereja. Aku bergereja di gereja berbahasa Indonesia + Jepang. Mayoritas jemaatnya sebenarnya adalah orang-orang Indonesia , tapi karena ada juga beberapa orang Jepang, jadilah dua bahasa di gereja itu, tapi tentu saja, bahasa Indonesia mendominasi :-D. Selesai mengikuti Natal , aku pulang bareng teman-teman menuju stasiun kereta listrik terdekat. Di tengah perjalanan, aku ngobrol-ngobrol dengan teman asal Manado yang sudah menjadi Bapak dan sekarang bekerja di sebuah pabrik di Jepang. Tentu saja dia sudah jauh lebih lama tinggal di Jepang daripada aku dan sudah lebih memahami gaya hidup orang Jepang, termasuk bahasa Jepang dan gaya bekerjanya orang Jepang. Temanku ini bercerita mengenai filosofi kerja orang Jepang. Buat orang Jepang, bekerja lebih dari sebuah bekerja. Pekerjaan yang dalam bahasa Jepang-nya disebut “shigoto (???)” ternyata artinya lebih dari sebuah pekerjaan.

Orang-orang Jepang mengartikan “pekerjaan” sebagai sebuah “pelayanan kepada orang lain”. Filosofinya mirip banget dengan filosofi kerja yang diajarin oleh pemimpin cell group-ku ke aku pas aku masih di Bandung . Filosofi bekerja bagi orang-orang Jepang sangat dalam. Itulah mengapa orang-orang Jepang sangat berdedikasi dalam pekerjaannya, atau yang dalam bahasa kita mereka “sangat profesional” dalam pekerjaannya. Prinsip mereka adalah:”Aku melayani Anda sebaik-baiknya dan aku tidak akan dapat hidup tanpa Anda, karena dengan melayani Anda aku bisa hidup”.
Satu hal lain yang baru aku sadari adalah ternyata ada filosofi yang dalam di balik huruf kanji Jepang untuk menyatakan orang (dalam bahasa Jepang orang disebut “hito dan huruf kanji untuk hito ini adalah seperti yang ini ?). Kalau kita perhatikan huruf kanji yang satu ini, ada dua garis yang keduanya saling menopang. Coba kita bayangkan deh kalau kita punya dua tiang lalu kita bentuk seperti kanji ini. Ga sulit, kan ? Tapi, kalau satu tiang diambil, tiang yang satunya lagi pasti roboh. Kalau masih tetap berdiri, aku pastikan aku menjadi orang yang buru-buru kabur karena pasti ada apa-apanya, hehehe (ga ding, bercanda, aku pasti menjadi orang pertama yang menelitinya, hahaha…).
Eh, sudah bisa nebak apa yang kira-kira akan aku sampaikan? Ya betul. Orang-orang Jepang menganggap bahwa hidup itu tidak bisa sendirian. “Aku tidak bisa apa-apa tanpa ada orang lain, makanya aku bekerja untuk melayani Anda sebaik mungkin karena aku membutuhkan Anda”, itulah filosofi yang tertanam dalam diri setiap orang Jepang. Maka ga heran juga kalau kita pernah dengar apabila 10 fisikawan Jepang diadu dengan 10 fisikawan Amerika, misalnya untuk merancang sesuatu, maka pasti 10 ilmuwan Jepang akan menang. Tapi, kalau diadu satu lawan satu, ilmuwan Jepang pasti “keok”. Aku pernah baca artikel tentang hal ini, tapi lupa euy baca dimana :-p, kalau ada yang tahu, kasitahu ya :-).
 

 
Aku menjadi ingat pas Christmas party di rumah professor lab-ku. Beliau melayani kami para tamunya dengan penuh kerendahan hati. Beliau memotong-motong daging, menyendoki daging dan nasi ke piring kami masing-masing. Ck, ck, ck… Aku langsung mikir: “Professor di Indonesia mau ga ya berbuat seperti ini?” Aku yakin kalau professorku itu juga punya filosofi “melayani” dalam dirinya. Filosofi “bekerja untuk melayani orang lain” itulah yang menjadi filosofi orang-orang Jepang dalam bekerja. Mereka sangat serius bekerja. Ga jarang aku melihat di kereta orang-orang Jepang baru pulang kerja jam 10 malam, padahal aku barusan pulang berpesta, hehehe… Dedikasi dalam bekerja itu terpancar dari kedisiplinan mereka. Ga jarang kita lihat kalau orang-orang Jepang berlari-lari untuk mengejar kereta karena mereka takut telat. Makanya hati-hati kalau bikin janji sama orang Jepang. Kalau janjian ketemu jam 9 pagi, ya tibalah jam 9 pagi. Buat mereka waktu sangat berharga. Keterlambatan dapat mempengaruhi pekerjaan mereka dan akan merugikan orang lain juga.
Aku masih ingat cerita dosenku di kelas bahasa Jepang. Pak dosen cerita kalau dia pernah dengar pengumuman di stasiun kereta listrik. Tahu apa isi pengumumannya?  “Kami mohon maaf karena kereta akan terlambat 30 detik”, itulah isi pengumumannya. Tentu kita bakal mikir: “30 detik mah ga ngefek kaleee…”. Tapi buat perusahaan kereta listrik itu, mereka menyadari bahwa keterlambatan 30 detik itu bisa merugikan orang-orang yang akan menggunakan jasa mereka, dan karena itulah mereka minta maaf.
 



Minta pertolongan ke orang-orang Jepang juga ga perlu sungkan-sungkan. Setiap kali aku minta tolong ke teman-temanku, mereka pasti bantu. O iya, contoh kasus di stasiun kereta listrik aja. Sistem kereta listirk di Jepang sangat kompleks. Bahkan orang-orang Jepang sendiri sering keliru naik kereta apa untuk menuju tempat tujuan. Aku pernah mengalami hal serupa. Mondar-mandir ke sana ke sini sampai keringatan kayak barusan olahraga. Bukan main betapa cepatnya orang-orang yang kutanyain memberikan respon. Kalaupun mereka sulit menyampaikan terutama karena masalah bahasa (harap maklum, bahasa Jepangku masih hancur kacau balau, hehehe), mereka akan menggunakan bahasa tubuh, misalnya pake jari menunjuk-nunjuk, atau dengan menggambarkan peta.

Aku juga pernah kebingungan di tengah jalan karena tersesat pas mau pergi ke sebuah acara. Aku ketemu sama dua orang gadis yang ternyata adalah mahasiswi dan mereka dengan murah hati membantuku mencari tempat acara hingga aku menemukan tempatnya. Mereka nganterin lho sampe ke tempat tujuan, padahal mereka tahu kalau aku orang asing dan mereka berdua juga ternyata barusan pulang dari bekerja paruh waktu di sebuah hotel di dekat asramaku, pasti mereka capek kan ? Dua-duanya cakep lagi, salah seorang di antaranya sepertinya campuran Jepang dan bule. Semoga ketemu dia lagi suatu saat nanti, maklum guys, masih jomblo :D, hahaha…
Jepang juga termasuk negara aman. Aku sering lihat anak-anak kecil pulang sendirian walaupun malam-malam, mungkin barusan pulang les. Mereka berjalan sendirian. Bukti bahwa Jepang merupakan negara aman buat mereka. Anak-anak kecil ini ga takut diculik, dirampok, diperkosa, atau bahkan dibunuh. Di negaraku tercinta, bapak-bapak aja yang berjalan sendirian di depan UKI, pasti kehilangan dompet karena ditodong preman :-p.
 



Tradisi yang sudah tertanam dalam diri dan mendarah daging itulah yang lebih banyak mempengaruhi gaya hidup orang Jepang. Walaupun mereka ga peduli dengan agama, tapi dalam hal bekerja dan tolong-menolong, atau kalau aku boleh bilang dalam masalah moral, mereka jauh lebih baik daripada orang beragama. Di Indonesia, yang menurut Pasal 29 UUD 1945 adalah negara yang berdasarkan Ke-Tuhan-an yang Maha Esa, masih banyak terjadi kekerasan, entah itu perampokan, penculikan, pembunuhan, pemerkosaan, dll… Perampokan yang kumaksud terjadi juga di tubuh pemerintahan, dimana uang negara dirampok oleh para pejabat rakus.
Pendeta di gerejaku, yang sudah tinggal di Jepang selama lebih kurang 11 tahun, pernah bilang kalau orang-orang Jepang sulit mempercayai sebuah keyakinan, alias agama, karena mereka melihat gaya hidup orang-orang yang mengaku beragama di negara lain dan mereka membandingkan, ternyata gaya hidup orang-orang yang mengaku beragama tidak lebih baik dari mereka secara moral. Memang itu koq fakta yang aku lihat sendiri dan sebagai orang yang mengaku beragama, aku juga merasa “ditampar”. Aku menyadari bahwa hidupku sungguh-sungguh belum sepenuhnya menggambarkan orang yang sejatinya beragama, yang bermoral baik.
Tahun 2009 ini aku merenungkan kembali hidupku yang sudah kujalani selama lebih dari 25 tahun (ketahuan nih umurku, hehehe...). Sudahkah hidupku lebih baik dari sebelumnya? Atau makin hancur? Jangan-jangan gaya hidupku sama sekali tidak dapat membuat orang di sekitarku berkata: “Orang ini memang berbeda, sangat baik. Aku ingin tahu rahasianya” atau berkata: “Orang ini tidak jauh lebih baik dariku koq, untuk apa aku percaya sama apa yang dia percayai?”
Mudah-mudahan hidup kita menjadi lebih baik dan berharga di waktu yang akan datang ...
 

 





0 comments:

Post a Comment